Selasa, Juni 2, 2020
  • Pendidikan
  • TV Literasi

DPR Dorong Pemerintah Perbanyak Jurnal Nasional Terakreditasi

Baca Juga

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Arzetti Bilbina mengatakan pemerintah perlu memperbanyak jurnal nasional terakreditasi untuk memacu produktivitas dosen dan guru besar.

“Untuk memacu produktivitas karya ilmiah anak bangsa, pemerintah harus menyiapkan lebih banyak jurnal nasional terakreditasi, karena saat ini jumlah jurnal nasional terakreditasi tersebut jumlahnya terbatas,” ujar Arzetti di Jakarta, Rabu (28/2).

Dia menjelaskan untuk masuk dalam jurnal terakreditasi di dalam negeri saja sudah cukup sulit, lalu bagaimana dengan jurnal internasional sehingga perlu ada solusi yang menyeluruh untuk mengatasi lemahnya produktivitas guru besar dalam menghasilkan karya ilmiah.

Anggota Komisi VIII DPR itu menambahkan pihaknya memahami terbitnya Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 untuk meningkatkan publikasi ilmiah pada tingkat nasional dan internasional, yang akan mendorong Indonesia mampu bersaing dengan bangsa- bangsa lain.

“Namun di sisi lain, banyak dosen kita yang tidak sepakat dengan Permenristekdikti tersebut karena biaya yang dikeluarkan lebih mahal membuat karya ilmiah, dibanding tunjangan yang diperoleh. Mereka menuturkan untuk publikasi saja, biayanya sekitar Rp15 jutaan, belum lagi biaya penelitian itu sendiri yang bisa sampai ratusan juta. Selain biaya, untuk dapat menembus jurnal-jurnal bereputasi international sungguh butuh banyak waktu, fokus tenaga yang ekstra,” papar dia.

Menurut dia, agak aneh ketika para profesor mempublikasikan karya ilmiahnya tetapi harus bayar di jurnal internasional tersebut, dan orang luar itu menikmati hasilnya.

“Hak paten dari karya intelektual para peneliti harus kita jaga. Kita juga harus menghargai profesor, yang lebih memilih mengabdi atau mengajar di negeri sendiri dari pada bekarya ke luar negeri.”

Menurut dia, memang menjadi masalah juga ketika hanya 1.551 orang profesor saja yang dinyatakan lolos memenuhi kriteria publikasi internasional dan Sebanyak 2.748 profesor tidak lolos publikasi sesuai syarat yang tercantum dalam Permenristekdikti Nomor 20/2017.

“Pemerintah tidak salah jika mengevaluasi kinerja mereka, karena upaya pemerintah untuk mensejahterakan guru besar seharusnya disertai peningkatan profesionalisme,” imbuh dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Sleepover dan Membangun Karakter

Di luar itu semua, ada juga yang kombinasi dari beberapa alasan di atas. Apa pun alasannya, kegiatan sleepover ternyata bermanfaat untuk membangun kohesi sosial, keterikatan serta pembangunan karakter, saling memahami, dan membangun sifat toleransi

Menag Kunjungi Rumah Penerima Bidik Misi IAIN Purwokerto

Kepada Emilia, gadis yang sudah ditinggal ibundanya sejak 40 hari kelahirannya, Menag berpesan agar program bidik misi ini terus diterima hingga kuliahnya selesai empat tahun atau delapan semester, maka prestasinya harus terjaga dan tidak boleh turun.

Kemendikbud Dorong Produser untuk Kembangkan Film yang Mendidik

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para produser yang filmnya berhasil mendapatkan lebih dari 1 juta penonton.

Kemenag Undang Siswa Madrasah Aliyah Ikuti Lomba Karya Ilmiah

Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidkan Madrasah (Ditpenmad) kembali menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Event tahun ini merupakan gelaran kali kelima.

Indonesia dan Belanda Kerjasama Revitalisasi Pendidikan Kejuruan

JAKARTA -  Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Pemerintah Belanda melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains menandatangani tiga naskah kerja sama di...

Berita Terkait

close