Jumat, Mei 27, 2022
  • Pendidikan
  • TV Literasi

Terkait Pencabulan Pada Siswa, Sulistyoso: Paradigma Pendidikan Harus Berubah

Baca Juga

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Terkait kasus pelecehan seksual oknum guru kepada 65 muridnya di sebuah sekolah SD swasta di Surabaya beberapa waktu lalu, mantan anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sulistyoso Soejoso memberikan telaah mendalam terhadap aspek anak yang mejadi korban kekerasan seksual.

Ditemui dikediamannya di Kutisari Utara Surabaya, Sulistyoso mengaku mengapresiasi upaya pemulihan mental korban yang dilakukan berbagai pihak terhadap korban, namun ia memastikan dampak negatif tidak akan sepenuhnya hilang.

“Sekuat apapun pemulihan dilakukan, itu tidak bisa memulihkan kembali seperti sediakala. Yang bisa hanyalah mengurangi dampak negatif, ada bekas, dan itu terbawa seumur hidup,” jelasnya, Senin (26/2).

Pria yang juga kolektor tanaman bonsai ini mengecam keras pelecehan seksual terhadap siswa, yang dapat dipastikan akan berdampak buruk dan sulit dihilangkan.

“Jangan kemudian berifkir ‘wong cuma dipegang-pegang tok’. Ini biasanya pembelaan dari kalangan yang ingin peristiwa itu tidak kelihatan besar. Jadi sekarang yang disoroti kalangan media, bagaimana sikap guru, kepala sekolah dan yayasan sekolah itu,” ujarnya.

Selain itu, Sulistyono berharap adanya perubahan paradigma pendidikan yang saat ini cenderung masih menerapkan cara-cara keras kepada siswa.

“Mayoritas guru mengatakan ‘Pendididkan itu kadang-kadang harus keras begitu, asal tujuannya mendidik’. Pertanyaannya seberapa jauh mereka punya batasan maksimalnya,” tukasnya.

Baca juga: Prihatin Kasus Pencabulan Guru ke Siswa, Berikut Rekomendasi Dewan Pendidikan Surabaya

Ia tidak sepakat dengan anggapan umum semacam itu, lantaran tindakan kekerasan sudah dapat dipastikan didahului faktor emosional.

“Bagimana tindakan itu bisa memberikan kesadaran untuk membatasi. Misal ada orang yang bilang ‘wong siswa di jewer saja kok, orang tua protes’. Tidak bisa dengan kata-kata dijewer, harus didalami lebih jauh. Dijewernya seberapa,” jelasnya.

Baca juga: Kasus Pencabulan Siswa, Sekolah Dinilai Tidak Peka Terhadap Aduan Orang Tua Korban

Laki-laki kelahiran Kediri ini menyebut kekerasan kepada anak sudah menjadi gejala di masyarakat berbagai belahan dunia. Sudah saatnya ada suatu perubahan paradigma pendidikan yang semata menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, berubah ke arah perbaikan moral dan akhlak.

“Maka kemudian, syahwat penguasaan pengetahuan dan ilmu ini harus dikurangi, artinya harus imbang pada perbaikan akhlak,” pungkasnya. (Luh/Hrn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Kursus Bahasa Indonesia di Universitas BBS Hungaria

JAKARTA - Budapest Business School (BBS), University of Applied Science, Hungaria, membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai salah satu kursus bahasa yang dipilih mahasiswanya untuk...

Tingkat Literasi Pelajar Indonesia Masih Rendah, Inilah Hasil Survei PISA

Kompetensi membaca pelajar Indonesia menurut hasil survei PISA 2015 meraih nilai 397. Angka ini jauh di bawah  rata-rata OECD sebesar 493. Demikian pula skor kompetensi matematika hanya 386, tertinggal dari rata-rata OECD sebesar 490.

Perpustakaan Tulungagung Dapat Tambahan Koleksi Sebanyak 586 Judul Buku

Sebanyak 586 judul buku baru tersebut terdiri dari 365 judul dalam bentuk buku elektronik (e-book), dan 221 judul dalam bentuk buku fisik dengan jumlah buku sebanya 275 buah.

Luar Biasa, 80 Persen Siswa di Sekolah Ini Langsung Diterima Bekerja di Industri

“Sekolah kami untuk siap kerja, bukan untuk kuliah. Kami bisa menerima siswa yang ingin kuliah, tetapi kami utamakan (perguruan tinggi) yang sudah kerja sama (dengan kami),” ujar Kepala Sekolah.

Berita Terkait

close