Selasa, Desember 7, 2021
  • Pendidikan
  • TV Literasi

Terkait Pencabulan Pada Siswa, Sulistyoso: Paradigma Pendidikan Harus Berubah

Baca Juga

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Terkait kasus pelecehan seksual oknum guru kepada 65 muridnya di sebuah sekolah SD swasta di Surabaya beberapa waktu lalu, mantan anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sulistyoso Soejoso memberikan telaah mendalam terhadap aspek anak yang mejadi korban kekerasan seksual.

Ditemui dikediamannya di Kutisari Utara Surabaya, Sulistyoso mengaku mengapresiasi upaya pemulihan mental korban yang dilakukan berbagai pihak terhadap korban, namun ia memastikan dampak negatif tidak akan sepenuhnya hilang.

“Sekuat apapun pemulihan dilakukan, itu tidak bisa memulihkan kembali seperti sediakala. Yang bisa hanyalah mengurangi dampak negatif, ada bekas, dan itu terbawa seumur hidup,” jelasnya, Senin (26/2).

Pria yang juga kolektor tanaman bonsai ini mengecam keras pelecehan seksual terhadap siswa, yang dapat dipastikan akan berdampak buruk dan sulit dihilangkan.

“Jangan kemudian berifkir ‘wong cuma dipegang-pegang tok’. Ini biasanya pembelaan dari kalangan yang ingin peristiwa itu tidak kelihatan besar. Jadi sekarang yang disoroti kalangan media, bagaimana sikap guru, kepala sekolah dan yayasan sekolah itu,” ujarnya.

Selain itu, Sulistyono berharap adanya perubahan paradigma pendidikan yang saat ini cenderung masih menerapkan cara-cara keras kepada siswa.

“Mayoritas guru mengatakan ‘Pendididkan itu kadang-kadang harus keras begitu, asal tujuannya mendidik’. Pertanyaannya seberapa jauh mereka punya batasan maksimalnya,” tukasnya.

Baca juga: Prihatin Kasus Pencabulan Guru ke Siswa, Berikut Rekomendasi Dewan Pendidikan Surabaya

Ia tidak sepakat dengan anggapan umum semacam itu, lantaran tindakan kekerasan sudah dapat dipastikan didahului faktor emosional.

“Bagimana tindakan itu bisa memberikan kesadaran untuk membatasi. Misal ada orang yang bilang ‘wong siswa di jewer saja kok, orang tua protes’. Tidak bisa dengan kata-kata dijewer, harus didalami lebih jauh. Dijewernya seberapa,” jelasnya.

Baca juga: Kasus Pencabulan Siswa, Sekolah Dinilai Tidak Peka Terhadap Aduan Orang Tua Korban

Laki-laki kelahiran Kediri ini menyebut kekerasan kepada anak sudah menjadi gejala di masyarakat berbagai belahan dunia. Sudah saatnya ada suatu perubahan paradigma pendidikan yang semata menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, berubah ke arah perbaikan moral dan akhlak.

“Maka kemudian, syahwat penguasaan pengetahuan dan ilmu ini harus dikurangi, artinya harus imbang pada perbaikan akhlak,” pungkasnya. (Luh/Hrn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Walau Telah Berusia 71 Tahun, Gondo Berhasil Rampungkan Pendidikan S-2 di ITS

Tekad besar Soejoto untuk menuntut ilmu membawanya dalam tujuan yang diinginkan. Pria yang selalu ceria ini sukses menuntaskan program magister (S-2) Teknik Kimia ITS dan resmi diwisuda di Graha Sepuluh Nopember ITS pada Ahad (15/9) kemarin.

Ombudsman: Sekolah Jual Seragam dan LKS ke Siswa Bisa Disanksi Administrasi dan Pidana

Agus menegaskan bahwa jual beli seragam, buku pelajaran dan LKS yang dilakukan pihak sekolah merupakan mal administrasi, sebuah pelanggaran administrasi, juga dapat dikategorikan sebagai tindakan Pungutan Liar atau Pungli, yang dapat dikenakan sanksi pidana bagi pelakunya.

Wow! Belum Sebulan, Buku “Mantappu Jiwa” Jerome Polin Sudah Terjual 20 Ribu Eksemplar

Buku 'Mantappu Jiwa' berisi catatan-catatan Jerome yang gigih memperjuangkan pendidikan sampai mendapat beasiswa penuh program sarjana Mitsui Bussan di Waseda University, Jepang.

Perpustakaan Tulungagung Dapat Tambahan Koleksi Sebanyak 586 Judul Buku

Sebanyak 586 judul buku baru tersebut terdiri dari 365 judul dalam bentuk buku elektronik (e-book), dan 221 judul dalam bentuk buku fisik dengan jumlah buku sebanya 275 buah.

Berita Terkait

close