Senin, Juni 1, 2020
  • Pendidikan
  • TV Literasi

Guru Tewas Dianiaya Murid, Pengamat: Evaluasi Sekolah dan Kedisiplinan

Baca Juga

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Meninggalnya Guru Tidak Tetap (GTT) SMAN 1 Torjun Sampang, Madura, Ahmad Budi Cahyono yang dianiaya oleh muridnya, Hl (17), pada Kamis (1/2) lalu, menuai tanggapan dari pakar hukum pidana anak, Nonot Suryono.

Nonot mengatakan hukum harus berimbang, kepolisian maupun penyidik harus juga mengetahui latar belakang sekolah, kenapa terjadi pemukulan murid terhadap guru, padahal, menurutnya, seorang guru itu paling disegani.

“Selama ini guru adalah orang tua kedua yang disegani. Kasus itu harus didalami lagi, motif apa yang menyebabkan guru (Budi, red) dipukul sampai meninggal. Sekolahan apa tidak membangun kedisiplinan?” katanya saat dihubungi SERUJI, Sabtu (3/1).

Pria yang juga pimpinan Surabaya Children Crisis Center (SCCC) ini menjelaskan jika anak itu terbukti menganiaya maka ditahan dalam tahanan anak atau pidana anak. Namun, menurutnya, dalam kasus tersebut jangan hanya menyalahkan si anak, perlu juga diselidiki apa yang menyebabkan anak berperilaku negatif tepat saat proses belajar-mengajar tengah berlangsung.

Baca juga: Guru di Sampang Dianiaya Siswanya Hingga Tewas

“Pihak pengajar dan sistem pembelajaran di sekolah itu perlu diselidiki, karena bagaimana pun sekolahan juga bertanggung jawab atas kejadian ini, lantaran terkait lingkungan sekolah dan kualitas kedisiplinan,” terangnya.

Selain disiplin sekilah, lanjut Nonot, lingkungan diluar sekolah juga perlu diperhatikan karena lingkungan bermain dominan mempengaruhi perilaku anak.

“Penyebab terjadinya penganiayaan, bisa jadi respon guru yang kurang aktif, kurangnya kedekatan antara guru dan murid dan lainya. Sedangkan, lingkungan diluar Sekolah juga pengaruh,” pungkasnya. (Devan/Iwan S)

1 KOMENTAR

  1. Banyak faktor yang memengaruhi, tetapi yang paling berperan banyak adlah faktor dari keluarga. Mengapa faktor keluarga? karena pendidikan awal itu berasal dari keluarga, jadi jika pendidikan keluarga sudah kurang disiplin, kurang dikontrol maka akan melampiaskan kebiasaannya di luar rumah. belum lagi kontrol masyarakat yang sekarang sudah tidak peduli lagi dengan karakter anak yang sudah melampau batas, masyarakat tidak mau lagi menegur karena adanya UU KPAI kawatir disebut melanggar UU ya sudah diarkan saja. hem negaraku mau jadi Pemuda emas konon?
    perlu pembenahan di semua lini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Sleepover dan Membangun Karakter

Di luar itu semua, ada juga yang kombinasi dari beberapa alasan di atas. Apa pun alasannya, kegiatan sleepover ternyata bermanfaat untuk membangun kohesi sosial, keterikatan serta pembangunan karakter, saling memahami, dan membangun sifat toleransi

Menag Kunjungi Rumah Penerima Bidik Misi IAIN Purwokerto

Kepada Emilia, gadis yang sudah ditinggal ibundanya sejak 40 hari kelahirannya, Menag berpesan agar program bidik misi ini terus diterima hingga kuliahnya selesai empat tahun atau delapan semester, maka prestasinya harus terjaga dan tidak boleh turun.

Kemendikbud Dorong Produser untuk Kembangkan Film yang Mendidik

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para produser yang filmnya berhasil mendapatkan lebih dari 1 juta penonton.

Kemenag Undang Siswa Madrasah Aliyah Ikuti Lomba Karya Ilmiah

Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidkan Madrasah (Ditpenmad) kembali menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Event tahun ini merupakan gelaran kali kelima.

Indonesia dan Belanda Kerjasama Revitalisasi Pendidikan Kejuruan

JAKARTA -  Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Pemerintah Belanda melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains menandatangani tiga naskah kerja sama di...

Berita Terkait

close