Sabtu, Desember 5, 2020
  • Pendidikan
  • TV Literasi

Berhasil Kembangkan Literasi, Sidoarjo Terima Anugerah Literasi Prioritas

Baca Juga

JAKARTA – Kabupaten Sidoarjo menerima Anugerah Literasi Prioritas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penghargaan ini diberikan atas prestasi pemerintah kabupaten Sidoarjo menjalankan program kreatif dan inovatif dalam bidang literasi.

Sidoarjo menerima penghargaan Anugerah Literasi Prioritas bersama dengan 18 kota/kabupaten lainnya. Beberapa dari kabupaten/kota tersebut bahkan telah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten/kota literasi. Program unggulan mereka antara lain menganggarkan APBD dan membuat Peraturan Bupati/Wali Kota serta Surat Edaran Dinas Pendidikan yang mendukung penerapan literasi sekolah.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah (pemda) yang menerima Anugerah Literasi Prioritas. Ia mengatakan, jika pemerintah daerah bisa benar-benar menggerakkan literasi di sekolah, maka hasilnya akan luar biasa, akan ada perubahan yang signifikan di dunia pendidikan dan generasi masa depan.

“Lulus atau tidaknya kabupaten/kota terhadap literasi itu bergantung kepada pemda, maka kami (Kemendikbud) berterima kasih atas inisiatif dari bupati, ibu dan bapak kepala dinas pendidikan dalam menyukseskan gerakan literasi,” ujar Hamid saat acara pemberian penghargaan Anugerah Literasi Prioritas di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta, Senin (20/3).

Penghargaan Anugerah Literasi Prioritas merupakan kerja sama antara Kemendikbud dengan USAID Prioritas dalam memberikan apresiasi kepada pemda yang mendukung gerakan literasi di sekolah. Hadir dalam acara penganugerahan tersebut, Bupati/Wali Kota dan Kepala Dinas Pendidikan dari 19 kabupaten/kota, pejabat eselon I di lingkungan Kemendikbud, personel Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah, dan Direktur serta perwakilan USAID Prioritas.

Ketua Satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Pangesti Wiedarti, berharap penganugerahan tersebut dapat dikembangkan menjadi penghargaan Adiliterasi. “Ketika Adipura merepresentasikan kesehatan lingkungan dan itu merupakan upaya Indonesia Sehat, Adiliterasi akan menjadi representasi dari Program Indonesia Pintar,” katanya.

Sementara itu Stuart Weston, Direktur USAID Prioritas, mengungkapkan kesuksesan budaya baca di sekolah terletak pada inisiatif pemda dan sekolah, sehingga terdapat kreativitas yang berbeda-beda untuk memunculkan minat dan motivasi membaca bagi para siswa.

“Pihak sekolah dan kabupaten mempunyai ide sendiri dan saling belajar untuk sukseskan budaya baca. Sehingga kreativitas dan karaktersitik masing-masing daerah dapat memunculkan social preassure bagi daerah lain untuk mau ikut serta bergerak dan melakukannya di daerah mereka,” tuturnya.

Stuart mencontohkan, inisiatif terlihat pada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya. Di sana terdapat enam jam jarak tempuh yang harus dilalui pihak sekolah untuk mencapai toko buku di Banda Aceh. “Pihak pemda mampu membeli buku karena mempunyai dana BOS dan APBD, tapi jarak yang jauh menjadi kesulitan mereka, sekitar enam jam. Dengan kemauan dan inisiatif sekolah, mereka mencari buku sendiri ke Banda Aceh,” ujarnya.

Ke-19 kabupaten/kota penerima Anugerah Literasi Prioritas yaitu Kabupaten Aceh Barat Daya (Aceh), Kabupaten Bireuen (Aceh), Kabupaten Labuhanbatu (Sumatera Utara), Kabupaten Serdang Bedagai (Sumatera Utara), Kabupaten Serang (Banten), Kabupaten Tangerang (Banten), Kota Cimahi (Jawa Barat), Kabupaten Bandung Barat (Jawa Barat), Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Kabupaten Banjarnegara (Jawa Tengah), Kabupaten Demak (Jawa Tengah), Kabupaten Sragen (Jawa Tengah), Kabupaten Lumajang (Jawa Timur), Kabupaten Blitar (Jawa Timur), Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur), Kabupaten Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan), Kabupaten Wajo (Sulawesi Selatan), dan Kabupaten Maros (Sulawesi Selatan).

EDITOR: Iwan S

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Kitab Kuning, (Apakah) Sudah Terlupakan?

Ada banyak nama sebagai sebutan lain dari kitab yang menjadi referensi wajib di pesantren ini disebut “kitab kuning” karena memang kertas yang digunakan dalam kitab-kitab tersebut berwarna kuning.

Berita Terkait

close