Senin, April 19, 2021
  • Pendidikan
  • TV Literasi

Sistem Rekrutmen Guru Salah Satu Penyebab Kasus Kekerasan Pada Siswa

Baca Juga

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Ketua Dewan Pendidikan Surabaya (DPS), Martadi mengatakan bahwa kasus kekerasan pada siswa dapat terjadi karena banyak aspek, salah satunya sistem rekrutmen terhadap guru.

Hal ini disampaikan Martadi menyikapi kasus pencabulan yang dilakukan seorang guru SD swasta di Surabaya yang berinisial MSH, kepada siswanya sendiri.

“Kasus kekerasan pada siswa terjadi karena berbagai aspek, seperti sistem seleksi saat rekrutmen guru yang kurang tepat. Maka hal ini bisa memicu perilaku menyimpang yang dilakukan guru terhadap siswa, karena kedekatan antara guru dan siswa terbilang sangat dekat,” kata Martadi saat dikonfrimasi SERUJI, Jumat (23/2).

Untuk mengatasi agar peristiwa tersebut tidak terulang kedepannya, DPS, kata Martadi, merekomendasikan agar sistem rekrutmen guru dilakukan lebih konprehensif.

“Saya rasa sebelum terjadi kekerasan pada siswa (kembali), Dinas Pendidikan perlu mengoptimalkan penerapan sistem rekrutmen guru, lewat psikotes atau psikologi dengan parameter-parameter yang ketat,” tuturnya.

Baca juga: Guru Diduga Cabuli 65 Muridnya, Kapolda: Hukum Berat

Selain itu, lanjutnya, keterlibatan orang tua untuk ikut bersama mengawal dan mendeteksi perilaku anak sangat diperlukan, supaya orang tua bisa mengenali perubahan perilaku ketika ada hal yang terjadi pada anak.

Baca juga: Prihatin Kasus Pencabulan Guru ke Siswa, Berikut Rekomendasi Dewan Pendidikan Surabaya

“Perilaku anak bisa berubah jika anak itu mengalami sesuatu. Selain orang tua, Pihak guru dan Wali Kelas wajib mengenali perubahan perilaku anak, jika ada yang terjadi, segera ditindaklanjuti,” pungkasnya. (Devan/Hrn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Tingkat Literasi Pelajar Indonesia Masih Rendah, Inilah Hasil Survei PISA

Kompetensi membaca pelajar Indonesia menurut hasil survei PISA 2015 meraih nilai 397. Angka ini jauh di bawah  rata-rata OECD sebesar 493. Demikian pula skor kompetensi matematika hanya 386, tertinggal dari rata-rata OECD sebesar 490.

Berita Terkait

close