Sabtu, September 26, 2020
  • TV Literasi

Saminisme Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Baca Juga

BLORA – Kearifan lokal Sedulur Sikep (Samin) yang berpusat di Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemebdikbud). Hal itu tertuang dalam sertifikat Nomor 65682/MPK.E/KB/2018.

Sertifikat yang ditandatangani oleh Mendikbud Muhadjir Effendy diserahkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah kepada Wakil Bupati Blora Arief Rohman.

Ajaran Saminisme dan kearifan lokal Sedulur Sikep (Samin) yang diajarkan oleh Samin Surosentiko (Raden Kohar) lahir di Desa Pliso Kadhiren, Kecamatan Randublatung, Blora pada 1859. Ajaran ini mencakup sikap hidup pribadi maupun sosial hingga membentuk sebuah keluarga besar dan berkembang di beberapa daerah seperti Blora, Bojonegoro, Pati, dan Kudus.

Sejarah panjang kaum Sedulur Sikep (Samin) telah menjadi sorotan, karena hingga periode 70-an Samin hidup dalam pengisolasian diri. Sikap menutup diri dari dunia luar kelompoknya tidak lepas dari situasi dan kondisi saat itu yang tidak pernah kompromi dengan penjajah.

Sikap dan budaya Saminisme tetap kukuh dalam keterisolasian di kampung di tengah hutan. Bahkan setelah pendiri Samin Surosentiko meninggal dalam pengasingan di Padang pada 1914, kaum Samin tetap mempertahankan ajaran yang diyakini kebenarannya hingga Indonesia merdeka.

Kaum Samin yang selalu tampil khas yakni berpakaian serba hitam, secara pelan mulai membuka diri. Ajaran luhur Saminisme juga semakin dipahami oleh warga lain di luar kelompoknya. Bahkan kearifan lokal ini menjadi kekayaan budaya bangsa dan diakui sebagai khazanah budaya yang patut dibanggakan karena mengandung ajaran berbudi luhur tinggi.

“Salah satu ajaran Saminisme yakni tidak boleh menyakiti sesama, saling menghargai dan menghormati sesama manusia, juga menjaga dan merawat alam sekitar,” kata sesepuh Saminisme Pramugi Prawiro Wijoyo, Ahad (22/9).

Beberapa ajaran masih dianut kuat oleh Saminisme di antaranya, agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Saminisme tidak membeda-bedakan agama. Pada praktiknya, kaum Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama lain karena yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.

Ajaran lain yakni jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, jangan suka mengambil milik orang, termasuk juga bersikap sabar dan jangan sombong. Bagi kaum Samin, manusia harus memahami kehidupannya. Bila berbicara harus menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati.

“Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam terdapat unsur ketidakjujuran dan juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Sejarah Ditjen Kebudayaan Kemdikbud Triana Wulandari mengapresiasi pemberian Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia untuk Sedulur Sikep (Samin) Blora. Blora selama ini dikenal akan kayu jati dan minyak bumi rupanya juga kaya akan budaya. Selain barongan, ada juga Saminisme yang saat ini diangkat sebagai tema besar Platform Indonesiana

“Cerita dari Blora dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Ini luar biasa, potensi yang harus terus dikembangkan,” tambahnya.

Wakil Bupati Blora Arief Rohman mengaku bangga atas penghargaan yang diberikan Kemendikbud. Sehingga kearifan lokal tetap akan dijaga sebagai warisan budaya bangsa yang tidak lekang oleh waktu.

“Setelah 2017 lalu seni Barongan Blora ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, kini giliran Sedulur Sikep, diharapkan hal ini bisa semakin meneguhkan Blora sebagai Kota Budaya, Kota Barongan dan Buminya Samin Surosentiko,” ujar Arief.

SumberMedcom

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Berita Terkait

close