Selasa, Desember 7, 2021
  • Peristiwa
  • TV Literasi

Refleksi Sumpah Pemuda: Memanen Bonus Demografi

Baca Juga

SERUJI.CO.ID – Hari ini kita memperingati Hari Sumpah Pemuda yang menjadi penanda kelahiran bangsa Indonesia 90 tahun silam. Pemuda-pemudi dari berbagai kelompok pergerakan kebangsaan menyatakan diri sebagai satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Kemudian sejarah mencatat bahwa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini pada 17 Agustus 1945.

Segera harus dicatat bahwa para penjajah tidak rela atas pernyataan kemerdekaan ini. Bangsa ini kemudian disibukkan oleh berbagai intervensi asing nekolimik sehingga kita gagal menyiapkan prasyarat budaya yang dibutuhkan untuk menjadi bangsa merdeka lalu melaksanakan amanah konstitusi UUD45 sebagai pernyataan kehendak rakyat merdeka.

Bangsa yang berketuhanan ini digempur instrumen nekolimik sekulerisasi melalui sistem persekolahan warisan kolonial dan sistem keuangan ribawi. Sekulerisasi mencabut semua pijakan transendental bagi pembangunan. Pembangunan direduksi menjadi sekedar peningkatan produksi dan konsumsi material, bukan sebagai perluasan kemerdekaan seperti yang dirumuskan oleh Amartya Sen 50 tahun kemudian.

Jika Ki Hadjar Dewantara merumuskan pendidikan sebagai upaya pemupukan jiwa merdeka, sistem persekolahan terbukti justru menyemaikan jiwa terjajah. Persekolahan menyediakan mental berhutang dan perbankan menyediakan hutang ribawi ini. Sekolah dan bank adalah institutional duo nekolimik yang disiapkan penjajah untuk melestarikan penjajahan itu hingga dua dekade pertama abad 21 ini.

Dua korban utama langsung duet nekolimik itu adalah keluarga dan masjid.

Persekolahan mengubah kesempatan belajar yang melimpah (di rumah dan di masyarakat, terutama di masjid) menjadi komoditi yang diperjualbelikan dalam pasar pendidikan yang monopolistik. Bahkan Ivan Illich menyebutnya monopoli radikal.

Wajib Belajar diplesetkan sebagai Wajib Bersekolah. Tidak bersekolah langsung dianggap kampungan dan tidak terdidik. Keluarga dianggap tidak kompeten mendidik, padahal keluarga adalah satu-satunya lembaga pendidikan yg dibentuk karena alasan ketuhanan (mitsaaqon ghaalidhan).

Dalam perspektif membangun sebagai upaya memanen bonus demografi, kita perlu segera membebaskan Sistem Pendidikan Nasional dari monopoli radikal persekolahan. Keluarga dan masyarakat harus diperkuat agar mampu mengambil alih tugas-tugas pendidikan dalam upaya membangun jiwa merdeka warga muda. Education for all is only possible by all.

Jatingaleh, 28/10/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Walau Telah Berusia 71 Tahun, Gondo Berhasil Rampungkan Pendidikan S-2 di ITS

Tekad besar Soejoto untuk menuntut ilmu membawanya dalam tujuan yang diinginkan. Pria yang selalu ceria ini sukses menuntaskan program magister (S-2) Teknik Kimia ITS dan resmi diwisuda di Graha Sepuluh Nopember ITS pada Ahad (15/9) kemarin.

Ombudsman: Sekolah Jual Seragam dan LKS ke Siswa Bisa Disanksi Administrasi dan Pidana

Agus menegaskan bahwa jual beli seragam, buku pelajaran dan LKS yang dilakukan pihak sekolah merupakan mal administrasi, sebuah pelanggaran administrasi, juga dapat dikategorikan sebagai tindakan Pungutan Liar atau Pungli, yang dapat dikenakan sanksi pidana bagi pelakunya.

Wow! Belum Sebulan, Buku “Mantappu Jiwa” Jerome Polin Sudah Terjual 20 Ribu Eksemplar

Buku 'Mantappu Jiwa' berisi catatan-catatan Jerome yang gigih memperjuangkan pendidikan sampai mendapat beasiswa penuh program sarjana Mitsui Bussan di Waseda University, Jepang.

Perpustakaan Tulungagung Dapat Tambahan Koleksi Sebanyak 586 Judul Buku

Sebanyak 586 judul buku baru tersebut terdiri dari 365 judul dalam bentuk buku elektronik (e-book), dan 221 judul dalam bentuk buku fisik dengan jumlah buku sebanya 275 buah.

Berita Terkait

close