Minggu, Oktober 17, 2021
  • Pendidikan
  • TV Literasi

Psikolog: Rasa Marah Itu Wajar, Tapi Menjadi Keliru Jika Sampai Membunuh

Baca Juga

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Nailatin Fauziyah, pengamat Psikologi sosial menjelaskan bahwa perilaku marah yang muncul sebagai hal wajar, namun menjadi tidak tepat ketika perilaku cenderung melukai orang lain.

“Marah itu kan ekpresi natural. Natural dalam arti ketika seseorang diperlakukan tidak adil maka muncul emosi marah, tapi kemudian menjadi ini tepat atau tidak, adalah terletak pada implementasinya. Apakah orang marah harus membunuh orang? nah yang salah disitu, tapi kalau marahnya manusiawi. Itu yang harus dibedakan,” katanya saat ditemui SERUJI, Rabu (7/2) sore.

Hal itu disampaikan Nailatin Fauziyah terkait peristiwa penganiayaan seorang Guru oleh muridnya, Hl, hingga tewas, yang baru baru ini terjadi di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura.

Dosen Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya itu memprediksi pola asuh yang dikembangkan oleh keluarga si pelaku cenderung kearah agresivitas.

“Bisa pola asuh yang dikembangkan keluarga. Jadi misalnya pola asuh keluarga, jika kecenderungan agresivitas menjadi pilihan untuk mengatasi kemarahan,” lanjut aktivis perlindungan perempuan asal Jombang itu.

Nailatin menyebutkan perilaku mengatasi situasi marah dalam diri Hl disebut coping behaviour. Namun sayangnya coping behaviour yang dipilih Hl, adalah dengan menyerang gurunya.

Pengurus LTN PWNU Jatim itu menegaskan cara Hl dalam mengatasi rasa marah dengan memukul dan menyerang guru bisa diperoleh dari proses belajar.

“Perilaku mengatasi, namanya coping behaviour, ketika dia berada dalam situasi emosi, cara mengatasinya seperti apa. ini didapat dari proses belajar. Belajar dari mana? Bisa dari orang tua, lingkungan terkecil, media, lingkungan masyarakat. Nah ini aspek lingkungan mempengaruhi,” tegasnya.

Ia melanjutkan jika membaca perilaku yang muncul dalam kasus tersebut, tergantung sudut pandang psikologi apa yang digunakan. Sudut pandang humanistik, mengartikan bahwa manusia pada dasarnya baik. Namun sudut pandang behaviouristik, manusia pada dasarnya dibentuk oleh lingkungan.

“Kalau mengacu pada humanistik itu potensi dasar manusia adalah baik. Tapi kalau behaviour adalah murni lingkungannya. Jadi yang membentuk dia agresi seperti apa?” tandas Nailatin di ruang kerjanya Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya. (Luh/Hrn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Sleepover dan Membangun Karakter

Di luar itu semua, ada juga yang kombinasi dari beberapa alasan di atas. Apa pun alasannya, kegiatan sleepover ternyata bermanfaat untuk membangun kohesi sosial, keterikatan serta pembangunan karakter, saling memahami, dan membangun sifat toleransi

Menag Kunjungi Rumah Penerima Bidik Misi IAIN Purwokerto

Kepada Emilia, gadis yang sudah ditinggal ibundanya sejak 40 hari kelahirannya, Menag berpesan agar program bidik misi ini terus diterima hingga kuliahnya selesai empat tahun atau delapan semester, maka prestasinya harus terjaga dan tidak boleh turun.

Kemendikbud Dorong Produser untuk Kembangkan Film yang Mendidik

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para produser yang filmnya berhasil mendapatkan lebih dari 1 juta penonton.

Kemenag Undang Siswa Madrasah Aliyah Ikuti Lomba Karya Ilmiah

Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidkan Madrasah (Ditpenmad) kembali menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Event tahun ini merupakan gelaran kali kelima.

Indonesia dan Belanda Kerjasama Revitalisasi Pendidikan Kejuruan

JAKARTA -  Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Pemerintah Belanda melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains menandatangani tiga naskah kerja sama di...

Berita Terkait

close