Selasa, Desember 7, 2021
  • TV Literasi

Prosesi Jamasan Tombak Kiai Upas Dinobatkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Baca Juga

TULUNGAGUNG – Satu lagi budaya asli Tulungagung masuk cagar budaya warisan budaya tak benda. Budaya itu adalah prosesi Jamasan Tombak Kiai Upas yang rutin dilaksanakan setiap hari Jumat tanggal belasan pertama bulan Suro.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Drs Heru Santoso MSi, pada Bhirawa Minggu (15/9), mengungkapkan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah memastikan akan menetapkan prosesi Jamasan Tombak Kiai Upas dalam warisan budaya tak benda.

“Saat ini sudah masuk dan kami tinggal menunggu penetapannya saja. Mungkin Oktober sudah ditetapkan,” ujarnya.

Dengan nanti ditetapkannya prosesi Jamasan Tombak Kiai Upas menjadi warisan budaya tak benda, maka Kabupaten Tulungagung akan memiliki dua warisan budaya kategori yang sama. Sebelumnya, pada tahun lalu budaya Manten Kucing di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat telah ditetapkan pula sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia.

Menurut Heru Santoso, penetapan dua budaya Tulungagung itu sebagai cagar budaya tak benda akan memastikan pula tidak ada daerah lain yang dapat mengklaim budaya tersebut.

“Kedua budaya itu sudah diakui merupakan budaya asli Tulungagung dan tidak dapat diklaim oleh siapapun,” paparnya.

Sebelumnya, Bupati Tulungagung, Drs Maryoto Birowo MM, di sela acara Jamasan Tombak Kiai Upas di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung, Jumat (13/9), menyatakan Tombak Kiai Upas merupakan legenda bagi masyakarat Tulungagung.

“Mereka meyakini sejak zaman penjajahan Belanda dapat membuat Belanda tidak bisa masuk ke Tulungagung dan juga bisa dipakai sarana menolak banjir besar saat zaman penjajahan Jepang,” katanya.

Ia berharap tradisi tahunan ini dapat semakin menarik masyarakat Tulungagung dan daerah lain untuk datang menyaksikan acara budaya pencucian pusaka Tulungagung itu .

Apalagi prosesi Jamasan Tombak Kiai Upas sudah masuk pula dalam salah satu wisata budaya unggulan di Tulungagung, Tombak Kiai Upas merupakan peninggalan masa Kerajaan Mataram Islam dan sudah ditetapkan sebagai pusaka daerah Tulungagung. Panjang tombak Kiai Upas tersebut mencapai 3,25 meter.

Saat acara jamasan atau siraman pusaka Tombak Kiai Upas banyak warga yang menunggu air bekas jamasannya. Mereka ngalap berkah atau meyakini air bekas jamasan tersebut sebagai air berkah yang dapat memenuhi permintaan.

Sebelum dilakukan siraman, prosesi diawali dengan kedatangan iring-iringan dayang pembawa air petirtan yang dikawal sepasukan prajurit kadipaten. Iring-iringan dayang ini pun diiringi pula dengan seni tari Reog Kendang yang merupakan tarian khas Kabupaten Tulungagung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Walau Telah Berusia 71 Tahun, Gondo Berhasil Rampungkan Pendidikan S-2 di ITS

Tekad besar Soejoto untuk menuntut ilmu membawanya dalam tujuan yang diinginkan. Pria yang selalu ceria ini sukses menuntaskan program magister (S-2) Teknik Kimia ITS dan resmi diwisuda di Graha Sepuluh Nopember ITS pada Ahad (15/9) kemarin.

Ombudsman: Sekolah Jual Seragam dan LKS ke Siswa Bisa Disanksi Administrasi dan Pidana

Agus menegaskan bahwa jual beli seragam, buku pelajaran dan LKS yang dilakukan pihak sekolah merupakan mal administrasi, sebuah pelanggaran administrasi, juga dapat dikategorikan sebagai tindakan Pungutan Liar atau Pungli, yang dapat dikenakan sanksi pidana bagi pelakunya.

Wow! Belum Sebulan, Buku “Mantappu Jiwa” Jerome Polin Sudah Terjual 20 Ribu Eksemplar

Buku 'Mantappu Jiwa' berisi catatan-catatan Jerome yang gigih memperjuangkan pendidikan sampai mendapat beasiswa penuh program sarjana Mitsui Bussan di Waseda University, Jepang.

Perpustakaan Tulungagung Dapat Tambahan Koleksi Sebanyak 586 Judul Buku

Sebanyak 586 judul buku baru tersebut terdiri dari 365 judul dalam bentuk buku elektronik (e-book), dan 221 judul dalam bentuk buku fisik dengan jumlah buku sebanya 275 buah.

Berita Terkait

close