Kamis, Mei 26, 2022
  • Pendidikan
  • TV Literasi

Kemendikbud: Bonus Demografi Syarat Jadi Negara Maju

Baca Juga

PADANG – Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harris Iskandar mengatakan bonus demografi merupakan salah satu syarat untuk menjadi sebuah negara maju.

“Saat ini Indonesia membutuhkan bonus demografi yang besar agar dapat menjadi negara maju. Untuk mewujudkan hal itu, butuh sinergi dari semua pihak,” katanya di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (5/8).

Ia menyampaikan hal itu dalam seminar parenting dengan tema “Keselarasan Pola Asuh Antara Keluarga, Satuan Pendidikan, dan Masyarakat Dalam Membentuk Karakter Anak” di Padang.

Menurut dia, untuk menghasilkan bonus demografi tersebut, kunci utamanya berada pada keluarga karena untuk membentuk karakter anak.

“Orang tua memiliki peran yang besar mulai dari hamil, melahirkan, mendidiknya, hingga masuk bangku sekolah,” katanya.

Setelah masuk sekolah, pendidikan anak juga tidak bisa diserahkan seluruhnya pada tenaga pendidik, tetapi juga harus ada kontrol dan pendampingan oleh orang tua di rumah.

“Memberi perhatian kepada anak sejak kecil merupakan salah saru cara untuk membentuk karakter anak,” katanya.

Ia mengemukakan bahwa saat ini untuk keluarga yang memiliki kelas sosial ekonomi menengah ke atas terdapat beberapa perubahan perilaku mendidik anak beberapa waktu terakhir.

Kebanyakan dari mereka, kata Harris Iskandar, ketika anaknya lahir, banyak yang mempercayai sepenuhnya mengasuh dan mengajari anak melalui pengasuh, mungkin karena kesibukan kerja.

“Dengan perilaku itu, anak tidak mendapatkan rangsangan emosional dari orang tuanya sehingga perilakunya juga akan berubah ketika besar,” katanya.

Untuk itu, dibutuhkan peran besar orang tua untuk mendapatkan bonus demografi di Indonesia sehingga hal itu juga akan berdampak pada terbentuknya karakter anak dan tidak membuat keresahan di lingkungan keluarga.

“Kondisi pendidikan Indonesia saat ini merupakan satu dari 17 negara yang mengalami kekerdilan pendidikan dengan tingkat 39 persen,” ungkap Harris Iskandar.

Ia menyebutkan beberapa daerah di Indonesia terdapat tingkat pendidikan yang masih rendah. Misalnya, yang masuk sekolah dasar sebanyak 1.000 siswa, 12 tahun kemudian yang tamat hanya setengahnya.

“Hal ini cukup memprihatinkan, salah satu syarat makmurnya bangsa mengalami kekerdilan, itu bukan masalah sepele,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Burhasman Bur mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen mewujudkan bonus demografi yang tinggi.

“Memang bonus demografi ini akan menentukan kemakmuran sebuah bangsa. Untuk mewujudkan itu, kami terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan,” katanya. (IwanY)

SumberAntara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Kursus Bahasa Indonesia di Universitas BBS Hungaria

JAKARTA - Budapest Business School (BBS), University of Applied Science, Hungaria, membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai salah satu kursus bahasa yang dipilih mahasiswanya untuk...

Tingkat Literasi Pelajar Indonesia Masih Rendah, Inilah Hasil Survei PISA

Kompetensi membaca pelajar Indonesia menurut hasil survei PISA 2015 meraih nilai 397. Angka ini jauh di bawah  rata-rata OECD sebesar 493. Demikian pula skor kompetensi matematika hanya 386, tertinggal dari rata-rata OECD sebesar 490.

Perpustakaan Tulungagung Dapat Tambahan Koleksi Sebanyak 586 Judul Buku

Sebanyak 586 judul buku baru tersebut terdiri dari 365 judul dalam bentuk buku elektronik (e-book), dan 221 judul dalam bentuk buku fisik dengan jumlah buku sebanya 275 buah.

Luar Biasa, 80 Persen Siswa di Sekolah Ini Langsung Diterima Bekerja di Industri

“Sekolah kami untuk siap kerja, bukan untuk kuliah. Kami bisa menerima siswa yang ingin kuliah, tetapi kami utamakan (perguruan tinggi) yang sudah kerja sama (dengan kami),” ujar Kepala Sekolah.

Berita Terkait

close