Selasa, Februari 18, 2020
  • TV Literasi

Diperingati Setiap 3 Oktober, Kretek Budaya Nasional Yang di Anak Tirikan

Baca Juga

KUDUS – Hari Kretek Nasional ditetapkan bertepatan dengan tanggal didirikannya Museum Kretek di Kudus, Jawa Tengah pada tanggal 3 Oktober 1986 yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada masa itu, Soepardjo Roestam.

Digagas dan diresmikannya oleh Pemerintah tentunya adalah sebuah bentuk pengakuan pemerintah atau negara atas kretek ataupun atas museum kretek. Museum kretek menjadi sebuah simbol dan prasasti yang dibangun oleh negara untuk memberikan penanda bagi masyarakat luas dan juga generasi penerus bangsa ini, bahwasanya kretek mempunyai peranan yang besar dalam membangun negeri ini (sumber: komunitaskretek.co.id).

Hari Kretek Nasional yang diperingati setiap tanggal 3 Oktober tersebut, nyaris tak diketahui oleh publik. Instansi pemerintah yang tiap hari bersinggungan dengan industri itu pun bahkan tak pernah terlihat memperingatinya. Walau pemasukan negara puluhan triliun diterima dari industri kretek ini.

Sebatas memasang spanduk atau karangan bunga ucapan selamat, sebagaimana hari-hari besar lain, pun tidak pernah dilakukan oleh Pemkab Kudus. Padahal, tiada yang menyangkal, kretek yang merupakan budaya asli Idonesia diyakini lahir di Kudus.

Dikutip dari Suaramerdeka.com, Senin (1/10), kondisi itulah yang antara lain mendorong sejumlah pegiat kebudayaan di Kudus berencana menggelar kembali prosesi bertajuk ‘Puja Doa Kretek’ pada Kamis (3/10) lusa.

Pada peringatan Hari Kretek Nasional tahun lalu, agenda serupa digelar di taman kompleks Oasis PT Djarum, Kudus. Penyair dan penggagas aksi budaya tersebut, Asa Jatmiko menyatakan, prosesi tersebut dimaksudkan untuk mengobarkan ruh bagi keberlangsungan industri kretek.

”Kretek merupakan budaya asli Indonesia yang lahir di Kudus,” ungkap Asa Jatmiko.

Asa Jatmiko menjelaskan, dalam prosesi itu para penggiat budaya akan mengusung properti dan unsur artistik lain yakni berupa obor (oncor), dupa, kembang setaman, beras kuning, tembakau, cengkeh, serta tumpeng.

”Pada kesempatan tersebut juga akan diisi tari oleh penari tunggal, pembacaan narasi singkat tentang sejarah Kretek oleh Teresa Rudiyanto, Andreas Teguh, dan Ricky Martin, di samping saya sendiri akan membaca puisi. Puncak prosesinya adalah memanjatkan doa bersama,” ujarnya.

Sejarah Rokok Kretek

Sejarah rokok kretek menjadi semakin jelas menyusul hasil penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Edi Supratno, sebagaimana dalam bukunya ‘Djamhari Penemu Kretek’, terbitan Pustaka Ifada (2016). Baru setelah buku tersebut terbit, Djamhari yang selama lebih dari 100 tahun disebut-sebut sebagai penemu kretek, dipastikan ada.

Kretek, yang pada awalnya dilinting dengan kulit jagung (klobot), pada masa itu terus berkembang dari tahun ke tahun. Kemudian pada kisaran 1916 industrialisasi kretek diawali oleh Raja Kretek Mas Nitisemito dengan produk Tjap Bal Tiga. Istana Raja Kretek yakni berupa Omah Kembar (di timur dan barat Kali Gelis) merupakan salah satu jejak kejayaannya yang masih mudah didapati.

Itu berbeda dari pabrik modern yang selesai dibangun pada 1926 di tepian Jalan Raya Agil Kusumadya Kudus. Setelah benar-benar gulung tikar, bangunan pabrik digunakan sebagai asrama Batalyon 426 dan kemudian Batalyon 409. Kini pabrik tersebut sudah tak berbekas.

Namun sejumlah pabrik lain, yang muncul sebelum rokok Tjap Bal Tiga surut atau setelahnya, hingga kini beberapa masih bertahan. Yakni PT Djarum, PR Sukun, dan PT Nojorono, yang memiliki andil menghidupkan perekonomian Kudus menjadi lebih hidup.

Kontribusi Rokok Kretek ke Negara

Kontribusi kepada negara dari pabrikan kretek yang ada di Kudus juga selalu melampui target. Data yang dihimpun target pendapatan cukai kretek tahun 2019 dari Kudus senilai Rp 32,66 triliun diyakini bakal terealisasi dan bahkan melampaui yang ditargetkan itu.

Ini seperti pendapatan cukai pada 2018, yang melampaui target yakni senilai Rp 31,07 triliun. Keberadaan pabrikan kretek di Kudus, tak ayal menumbuhkan manfaat yang dirasakan bagi warga masyarakat.

Di luar lebih dari 100 ribu orang warga yang terserap dalam proses produksi. Manfaat bagi Kudus dimaksud, tak dapat dimungkiri, yaitu adanya kucuran bantuan CSR (corparate social responsibility) dari Djarum Foundation yang lebih besar dari pada daerah lain. Tetapi, fakta-fakta di atas, seperti bertolak belakang dengan keberadaan Museum Kretek.

Museum satu-satunya yang ada di Indonesia ini, bagai berwajah muram. Benda atau barang koleksi yang bertali-temali dengan sejarah kretek yang ada, juga hanya itu-itu saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Mulai 2020, Dana BOS Tidak Boleh Lagi Digunakan Untuk Gaji Guru Honorer

Hal itu dilakukan pemerintah, jelas Muhadjir, karena menimbulkan masalah bagi sekolah yang fasilitas operasionalnya tidak terpenuhi akibat BOS banyak terpakai untuk membayar gaji guru honorer.

Berita Terkait

close