JAKARTA – Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta akan mengambil tindakan tegas terhadap pelajar yang terlibat aksi unjuk rasa dan terbukti melakukan tindakan anarkis atau kriminal. Tindakan tegas yang akan diambil adalah pencabutan Kartu Jakarta Pintar (KJP) milik pelajar tersebut.
Hal itu ditegaskan Kepala Disdik DKI Jakarta, Ratiyono terkait beberapa kericuhan yang terjadi saat aksi unjuk rasa yang terjadi di Gedung DPR RI yang juga diikuti pelajar dari berbagai sekolah di Jakarta, pada Senin (30/9) lalu.
“Kalau kriminal bisa pemberhentian KJP, tapi kalau sifatnya ikut-ikutan akan diberikan peringatan dan pembinaan pada orangtua, itu barang kali dikumpulkan jangan diulangi ya KJP-nya tetap jalan,” kata Ratiyono di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, sebagaimana dilansir Kompas.com, Selasa (1/10).
Ratiyono mengingatkan bahwa pelajar yang melakukan aksi unjuk rasa anarkis akan berdampak pada masa depannya, ditambah dengan dicabutnya KJP oleh Pemprov DKI.
“Kalau dihentikan sudah miskin ya ikut-ikutan rusak masa depannya, tapi tetap diingatkan kamu sudah miskin jangan ikut-ikutan,” ujarnya.
Namun, Ratiyono juga mengaku tidak melarang pelajar ikut dalam aksi unjuk rasa selama mengikuti aturan yang berlaku, tidak bertindak anarkis, merusak, dan melakukan perbuatan kriminal.
“Yang namanya unjuk rasa karena emang di dalam Undang-Undang dibolehkan dengan catatan mendapat izin. Jadi unjuk rasa itu dibolehkan selagi aturannya diikuti,” tuturnya.
Sebelumnya, Ratiyono mengimbau para pelajar di Jakarta langsung pulang ke rumahnya setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun, jika ada pelajar yang melakukan aksi unjuk rasa setelah jam belajar di sekolah, Ratiyono meminta mereka tidak bertindak anarkistis.
“Kalau ada (pelajar) yang unjuk rasa, yang penting mereka tidak boleh anarkistis, tidak boleh melakukan tindak kekerasan, tapi usahakan kalau usia SMA seyogyanya memang langsung pulang,” ujar Ratiyono, Senin (30/9/2019).
Ratiyono khawatir pelajar yang mengikuti aksi unjuk rasa akan terprovokasi. Karena itu, menurut dia, para pelajar itu sebaiknya mengikuti aksi unjuk rasa saat mereka sudah duduk di bangku kuliah.